Aku masih mengendarai sepeda motor bututku sehabis kita jalan sore tadi.
Jalanan sudah sepi, menyisakan kesepian yang menyenangkan ini.
Angin malam yang dingin menyegarkan, membawaku ke tepi alam khayal.
Angin malam yang dingin menyegarkan, membawaku ke tepi alam khayal.
Lampu jalan yang berwarna kuning
Memantul di genangan air yang masih ada sedikit.
Memantul di genangan air yang masih ada sedikit.
Seperti terakhir kali aku berjalan bersamamu.
Kita baru saja kembali dari menonton filem bersama.
Kita sudah memutuskan untuk berjalan saja menikmati udara segar malam itu. Kau dan aku berjalan bersama, di keheningan malam, setelah senja membawa angin dingin.
Membuatmu menggigil.
Membuatku ingin memelukmu untuk memberikan kehangatan cinta.
Itu cuma rasaku kerana kau sudah tercetak jauh dalam relung hatiku yang paling dalam.
Kita sudah memutuskan untuk berjalan saja menikmati udara segar malam itu. Kau dan aku berjalan bersama, di keheningan malam, setelah senja membawa angin dingin.
Membuatmu menggigil.
Membuatku ingin memelukmu untuk memberikan kehangatan cinta.
Itu cuma rasaku kerana kau sudah tercetak jauh dalam relung hatiku yang paling dalam.
Ini tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Matamu tak pernah memberikan pijar cinta yang aku tunggu selama ini.
Tapi kebersamaanku bersamamu, setiap detiknya adalah kebahagiaan bagiku.
Betapa hati ini tak pernah berhenti mengucapkan cinta.
Tapi kebersamaanku bersamamu, setiap detiknya adalah kebahagiaan bagiku.
Betapa hati ini tak pernah berhenti mengucapkan cinta.
Kau mengingat seseorang.
Dan orang itu bukanlah aku.
Tapi aku tak peduli.
Aku tak pernah peduli.
Cukup melihatmu bahagia, itu adalah kebahagiaan bagiku.
Aku tak pernah peduli.
Cukup melihatmu bahagia, itu adalah kebahagiaan bagiku.
{ 0 komentar... read them below or add one }
Posting Komentar